Skip to main content

Silence

Aku percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stephenie Meyer dalam novelnya, Twilight. Sangat mudah mempercayai kegilaan di tengah keheningan seperti yang sekarang ini aku rasakan. Ya, KEGILAAN..

Jangan menangis... Sungguh pun berapa kali aku berjanji namun air mata yang sama tidak dapat kubendung. Sudah berapa tahun ini semuanya sama saja. Kadang aku mengingatkan diri bahwa inilah yang terbaik, namun tetap saja aku mengingkari apa yang aku pilih.

Orang di luar sana tak mengetahui sedikit pun. Bukan suatu kebahagiaan. Aku sudah mengalami hal yang sangat berat. Dihadapkan pada pilihan hidup ternyata sangat menentukan masa depan. Bukan itu saja, menjalani keputusan- itulah saat paling menyakitkan. Aku bisa mengatakan bahwa aku merasakan dampak berkepanjangan. Orang-orang tak tahu sakit yang kurasa. Diperlakukan secara tidak adil dari hanya melihat sudut mata saja. Anda memang di tempat berpredikat. Siapa yang mengingkari? Singgungan bukan lagi tajam, tapi sangat tajam.

Dan masalah itu tak pernah hilang walaupun aku terus menguburnya. Sampai kapan?

Ya, aku hanya bermain karakter. Aku kehilangan senyuman yang tulus. Aku memang tertawa, tawa tanpa arti. Bahkan walaupun sesuatu membuatku merasa nyaman sejenak tidak lantas aku melupakan jalan hidupku yang begitu berliku-liku.

Life is hard, isn't it?

Comments

Popular posts from this blog

AFS, My First Time I Know You

Hari ini capek banget… Seharian cari souvenir tuk Miss Bethany yang go back. Malamnya belajar sampe hampir tidur sama buku. Soalnya besok ulangan essay. Ditambah cuaca dingin banget, ya udah, hidung tersumbat, bersin tiap detik. Tidak menghalangiku untuk menulis di blogku ini. Walaupun aku sadar, ini sudah larut malam, tapi aku tidak tahu apa gerangan yang membuatku demikian. Entah mengapa, hari ini aku sangat teringat dengan seleksi AFS 1 Juni kemarin. Aku teringat dengan gedung yang kutempati, kakak volunteer yang jadi pengawasku, dan teman-teman yang menjadi peserta sesama seleksi di ruangan yang tidak begitu mencolok. Ya, semua itu akan kucurahkan dalam penulisan blogku kali ini. Tanggal 1 Juni kemarin, aku mengikuti seleksi pertukaran pelajar Bina Antarbudaya, AFS untuk Chapter Makassar. Aku berangkat hari Jumat, tepatnya dua hari sebelum hari H. Kunjunganku hari itu hanya ke Graha Pena dan Benteng Rotterdam. Kakakku menjemputku saat aku di Benteng Rotterdam. Lalu ke Jln...

So Sad

Hari ini di sekolah, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Aku sengaja agak terlambat berangkat ke sekolah karena semalam aku kurang tidur. Sampai di sekolah, tentunya disambut dengan tatapan dingin ala pak Thisiplin,, siapa lagi kalau bukan No-Name. Masuk ruang kelas, aku disambut oleh keharusan membayar iuran untuk Miss Bethany yang akan pulang kampung ke America. Ya, sebentar lagi ia akan meninggalkan kami. Aku sebenarnya menyukai cara mengajarnya, hanya saja tampaknya ia sangat kaku. Sisa waktu pelajaran hanya membaca dan membaca. Tidak menarik untukku. Belum lagi pelajaran sejarah yang sungguh membosankan, bagaimana tidak minggu lalu kami ulangan. And next weekend ulangan lagi. Untung saja aku tidak termasuk dalam daftar siswa yang akan diinterogasi guru BK. Let's go home. Eitss,, di depan sekolah ada penjual rujak. Mampir dulu deh... Ya, aku hanya menikmati hari ini dengan tidur siang lalu dibangunkan oleh segerombolan manusia penghuni lapangan yang suaranya memekik...

Habis Manis Sepah Dibuang

Happy Eid Mubarak 1432 H. Minal Aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir & bathin. Ya, aku melangkah menuju kemenangan. Kemenangan sejati. Kemenangan yang aku peroleh setelah 30 hari lamanya berperang melawan nafsu. Alhamdulillah, aku masih diberi rahmat oleh Allah swt, aku masih bisa menghirup udara Idul Fitri ini. Sungguh, aku sangat berbahagia. Semalaman menyaksikan langsung pawai takbiran-mengagungkan Asma Allah swt. Ditambah sentuhan kembang api yang berwarna-warni. Hati tak akan merasa luka, namun luka karena Ramadhan telah pergi. Paginya aku pergi sholat Eid. Setelah itu aku mendapat sms dari teman yang mengatakan "Jangan ada yang keluar rumah ya, kita mau jemput kalian masing-masing di rumah". Berarti semua teman akan datang ke rumahku dong? Senangnya. Tapi nyatanya setelah beberapa jam menunggu, tak satu pun yang kunjung datang. Aku sangat kecewa. Aku merasa sangat tak dihargai. Perlu diketahui, bahwa aku tak merasa demikian jika aku tak melakukan hal yang te...